Rabu, 20 November 2013

SURAT RASUL PAULUS KEPADA TITUS

MAKALAH

“PENGAJAR YANG BENAR MENURUT SURAT PENGGEMBALAAN RASUL PAULUS”
(TITUS PASAL I, II, DAN III)
Sebagai persyaratan mata kuliah Eksposisi Perjanjian Baru III
Dosen Pengampuh :
MARUHAL SIRINGO-RINGO M.Th
 








Disusun Oleh :
Rani.A.Simbolon
Semester : V (lima )
JAKARTA
2013








DAFTAR ISI
BAB.I. PENDAHULUAN
       I.a. Latar belakang................................................................................................
       I.b. Tujuan Penulisan............................................................................................
BAB.II.  A. PENGERTIAN
            II.a. pengajar secara umum.............................................................................
            II.b. pengajar menurut iman kristiani...............................................................
            B. PENGAJAR YANG BENAR MENURUT  SURAT TITUS
            II.a. Pasal I : menciptakan Jemaat yang teratur.................................................
            II.b. Pasal II: meneguhkan..................................................................................
            II.C. Pasal III: Mengingatkan agar melakukan pekerjaan Yang baik.......................
BAB III. PENUTUP
            III.a. Kesimpulan......................................................................................................
            III.b. Saran...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Surat ini di tulis di makedonia kira-kira pada tahun 66 atau 67. Surat ini membicarakan asas ajaran Kristen, pemerintahan dalam jemaat dan bagaimana titus seharusnya bertindak terhadap anggota jemaat, terhadap yang bersalah, maupun yang tidak bersalah. Di tinjau dari kata pendahuluannya yang amat panjang, kelihatannya surat ini adalah sebuah surat resmi. Rupanya Paulus menghendaki agar surat ini bukan saja di baca titus, tetapi juga oleh semua anggota jemaat. Memang Paulus telah menetapkan titus sebagai wakilnya di Kreta.
            Titus adalah seorang Yunani dan sahabat karib rasul Paulus. Ia bahkan merupakan penolong Paulus, yang pernah di utus oleh Paulus untuk mengunjungi beberapa jemaat supaya ia dapat membantu pelayanan di dalam jemaat-jemaat itu. Dua kali ia menjadi utusan Paulus ke jemaat di Korintus. Ia amat setia dan sama sekali tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia telah menyertai Paulus dan Barnabas pada waktu mereka pergi ke Yerusalem. Ia sehati dengan Rasul Paulus kepada jemaat di korintus, baik yang pertama maupun yang kedua. Oleh Paulus ia di tinggalkan di pulau Kreta supaya ia dapat menyempurnakan apa yang belum sempurna dalam jemaat itu serta mengatur dan membangun jemaat itu. Titus juga mengangkat penatua-penatua dalam tiap-tiap jemaat seperti yang dilakukan Paulus sebelum Paulus meninggalkan pulau Kreta itu.
            Titus menyertai Paulus pada waktu Paulus dipenjarakan di Roma. Dan rupanya surat Paulus ini ditulis kepada Titus sebelum Paulus di penjarakan untuk kedua kalinya, tidak lama sebelum Rasul Paulus di bunuh. Walaupun Paulus amat mengasihi Titus, Paulus tidak menyatakan isi hatinya kepada Titus sama seperti yang dilakukannya kepada Timotius. Rupanya Titus lebih tua daripada Timotius serta lebih teguh pendiriannya, sebab Paulus pernah dua kali mengutus Titus ke Korintus untuk mengatur hal-hal yang sulit dalam jemaat itu. Jadi jelaslah bahwa Paulus menganggap Titus sebagai seorang yang dapat menyelesaikan hal-hal yang demikian.
            Paulus melihat Titus sebagai seorang yang mempunyai kepribadian yang teguh serta bijaksana dalam pergaulan. Titus bukanlah seorang uskup yang diangkat untuk menetap di pulau Kreta itu, melainkan Titus merupakan seorang pengabar Injil yang pergi ke berbagai tempat. Di sini nyata bahwa Injil sudah samapaike pulau kreta sebelum Paulus dan titus tiba di sana. Karena Paulus adalah seorang rasul yang mengurus/banyak jemaat, maka ia tidak dapat tinggal lama di pulau Kreta. Maka ia meninggalkan Titus supaya ia menyempurnakan pekerjaan yang telah di mulai oleh mereka sendiri.

B.     Tujuan penulisan makalah
            Penulis bertujuan untuk menggali dan berusaha memaparkan apa yang menjadi permasalahan yang terdapat dalam surat penggembalaan rasul Paulus terhadap Titus. Dan sesungguhnya penulisan ini pun terjadi semua karena tuntutan akademis yang di bidangngi oleg Dosen pengajar saya. Penulis berusaha membentangkan pokok-pokok bahasan dalam surat Titus. Supaya orang-orang Kristen mengerti arti dan isi pengajaran Kitab Titus, sehingga mereka melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara Khusus sebagai landasan bagi pengajar PAK di dalam kalangan pelayanan dan dimanapun berada sehingga mempu menjadi teladan dan sebagai saluran/alat untuk mengabarkan INJIL.












BAB II
PENGERTIAN
II. a. DEFENISI PENGAJAR SECARA UMUM
            Secara umum, Pengajar adalah suatu usaha guru yang mengatur lingkungannya sehingga terbentuk situasi dan kondisi yang sebaik-baiknya bagi anak yang diajar, sehingga belajar itu bukan hanya dapat berlangsung diruangan kelas, tetapi dapat pula berlangsung bagi sekelompok siswa di luar kelas atau di tempat-tempat lain yang memungkinkan siswa tersebut untuk belajar.
Untuk lebih jelasnya, maka penulis akan mengemukakan beberapa teori tentang mengajar yaitu:
Pengertian lama:Mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman, kecakapan kepada anak didik kita, atau usaha untuk mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikutnya.
Pengertian baru:Mengajar adalah bimbingan kepada siswa dalam proses belajar. Dengan melihat defenisi ini maka jelas bahwa yang aktif dalam proses belajar adalah siswa itu sendiri, sedangkan guru hanya tinggal mengawasi, mengkoordinir dan membimbing siswa agar sesuai dengan kebutuhannya dan mengingat kepribadian anak yang berbeda-beda. Dalam hal ini siswalah yang lebih aktif dalam memikirkan hal-hal yang sedang dipelajari.
[1]S. Nasution, memberikan beberapa defenisi tentang mengajar sebagai berikut:
1.Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak.
2.Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak didik.
3.Mengajar adalah aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
4. Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar.
Jadi, mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik. Menurut pengertian ini, berarti tujuan dari siswa itu hanya ingin mendapatkan atau menguasai pengetahuan. Jadi siswa cenderung untuk pasif karena hanya menerima informasi atau menguasai pengetahuan yang diberikan oleh gurunya, sehingga ada juga yang menyebut pengajaran seperti ini sebagai pengajaran yang intelektualitas.
            Jadi tujuan akhir dari mengajar itu tidak lain adalah untuk membimbing anak/ Siswa agar mengalami perubahan.

II. DEFENISI PENGAJAR MENURUT IMAN KRISTIANI

a)       Istilah belajar Menurut PL
            Istilah-Istilah Belajar Mengajar dalam Perjanjian Lama Ada empat kata Ibrani yang biasa digunakan dalam Alkitab untuk menjelaskan tentang pengajaran; yaitu "lamad" (mengajar), "yada" (mengetahui), "bin" (bisa membedakan atau memahami), dan "zahar" (memperingatkan).
Lamad adalah kata Ibrani yang paling sering dikaitkan dengan proses belajar mengajar. Aslinya, "lamad" berarti mendorong lembu agar dia terus berjalan. Kemudian kata tersebut digunakan untuk menegaskan bagaimana membuat seseorang tahu tentang sesuatu. Lamad sebenarnya berarti "menyebabkan belajar", yang merupakan satu indikasi jelas bahwa pengajaran yang alkitabiah tak dapat dipisahkan dari belajar. Kita yang mengaku menjadi guru, belum dapat dikatakan mengajar sampai seseorang yang kita ajar belajar. Pengertian lamad ini mengembalikan kebenaran ke asalnya.
            Contoh kata lamad ini ditemukan di Kitab Ulangan: "Engkau harus "mengajar" (lamad) mereka, supaya mereka melakukannya" (B5:31). Coba perhatikan, hukum-hukum Tuhan diajarkan bukan sebagai pengetahuan yang abstrak, tapi diajarkan dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Yada menjelaskan suatu tingkat pemahaman yang dalam, kata ini banyak digunakan dalam Perjanjian Lama untuk menjelaskan kedekatan seksual. Namun demikian, Yada digunakan dalam kitab Yosua untuk menggambarkan respons bangsa Israel terhadap petunjuk Tuhan: "supaya kamu "mengetahui" (yada) jalan yang harus kamu tempuh" (3:4). Di sini, Tuhan berbicara dan memberi petunjuk kepada bangsa Israel melalui Tabut Perjanjian. Ketika dibawa, tabut ini menyampaikan maksud Tuhan; bahwa pengetahuan membuat bangsa Israel mampu menyelesaikan perjalanannya. Pengetahuan menuntun pada satu tindakan.
Bin awalnya berarti "memisahkan", tapi karena bahasa Ibrani berkembang, kini bin berarti "membedakan" atau "memahami". Kita membaca dalam Nehemia bahwa setelah orang-orang Yahudi membangun kembali tembok Yerusalem, "orang-orang Lewi 'mengajarkan' (bin) Taurat kepada orang-orang itu" (8:7). Kini, beberapa orang menganggap konsep ini sebagai pengertian batin, yang menuntun pada satu tindakan yang bertolak belakang dengan pemahaman logika yang tidak dapat dipraktikkan dalam kehidupan.
Zahar merupakan kata Ibrani keempat yang akan kita pelajari. Kata ini sebenarnya berarti "memancarkan cahaya", lalu kata ini berarti "memperingatkan". Dalam Yehezkiel, nabi Tuhan diperintahkan untuk "memperingatkan" (zahar) orang jahat itu dari hidupnya yang jahat supaya ia tetap hidup (3:18). Tujuan dari suatu peringatan adalah untuk memperbaiki tindakan. Seseorang yang menerima peringatan harus memerhatikannya. Jika tidak, peringatan itu akan menjadi sia-sia.
Di dalam PL juga banyak terdapat ataupun tertulis mengenai pengajar yaitu Allah sendiri dilakukan terhadap umat ataupun anak pilihannya di antaranya ialah:
Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."

Mengajar adalah(penyambung lida Allah )  meyakinkan orang lain untuk mengerti materi yang diajarkan.
Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar.
supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang dilakukan mereka bagi allah mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada TUHAN, Allahmu.
Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: "Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu."
yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga.
Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia.

b. Istilah Belajar Mengajar dalam Perjanjian Baru
             Kata-kata Yunani yang biasa digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan proses belajar mengajar banyak menunjukkan bahwa memerhatikan perintah lebih baik daripada menderita karena belajar dari pengalaman yang menyedihkan. Istilah-istilah yang akan kita pelajari antara lain "didasko" (mengajar), "noutheteo" (memperingatkan/menegur), paideuo (melatih), dan "matheteuo" (memuridkan).
Didasko digunakan lebih dari 100 kali dalam Perjanjian Baru. Arti kata ini muncul dari kata lain, "dao", yang berarti "mempelajari". Kata didasko sesungguhnya menunjukkan keterkaitan yang erat antara mengajarkan suatu pelajaran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.
Dalam suratnya yang pertama untuk jemaat Korintus, Paulus memberi tahu orang-orang Korintus agar mereka melakukan prinsip-prinsip pengajarannya, "seperti yang kuajarkan (didasko) di mana-mana dalam setiap jemaat" (4:17). Pesan ini sangat penting sehingga Paulus mengutus Timotius untuk mengirimkannya sendiri. Orang-orang Korintus diharapkan memerhatikan cara hidup Paulus dan mengikuti teladannya dalam mengikut Kristus (4:16). Sekarang, bahkan sejak itu, perintah seharusnya menuntun pada ketaatan, yang menghasilkan kehidupan Kristen yang benar.
Noutheteo sebenarnya merupakan kombinasi dua kata, "nous" (pikiran) dan "titheni" (menaruh atau menempatkan). Setelah keduanya digabung, secara harfiah kata ini berarti mengingat. Karena noutheteo biasanya diterjemahkan menjadi mengingatkan/menegur, atau memerintahkan, Paulus menasihati para orang tua untuk "mendidik (anak-anak) di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" (Efesus 6:4).
            Jika kata sebelumnya cenderung menekankan peringatan-peringatan mengenai apa yang tidak boleh dilakukan, paideuo membahas lebih banyak perintah yang membangun. Kata ini bisa diterjemahkan menjadi "melatih" atau "mendidik". Yang ditekankan di sini adalah memberikan arahan yang positif. Ini berarti lebih dari sekadar memberi tahu anak Anda untuk tidak meninggalkan sepeda di belakang mobil. Ini berarti Anda harus menunjukkan kepadanya tempat yang tepat untuk meletakkan sepedanya. Seperti yang dinyatakan oleh Paulus, "Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk ... mendidik (paideuo) orang dalam kebenaran" (2 Timotius 3:16). Perintah yang alkitabiah selalu menghasilkan perubahan perilaku yang mengarah ke kehidupan yang benar.
Matheteuo adalah kata keempat yang akan kita bahas pada bagian ini. Asal kata ini diambil dari kata "manthano" (mempelajari); bentuk kata kerjanya menekankan proses bagaimana seseorang bisa menjadi murid. Jadi, para pengikut Yesus adalah murid-Nya karena mereka belajar dari-Nya dan setia mengikut-Nya.












B. PENGAJAR YANG BENAR MENURUT  SURAT TITUS

II.a.
Pasal I: menciptakan Jemaat yang teratur
1.      Pendahuluan dan salam Rasul Paulus kepada Titus (1:1-4)
            “Dari Paulus, Hamba Allah,” betapa indahnya jabatan itu. Hanya dalam surat ini Rasul paulus menyebut dirinya hamba Allah. Tiap- tiap pengabar injil, bahkan yang mempunyai jabatan tertinggi sekalipun di dalam jemaat Kristus, hanyalah merupakan hamba Allah, yang melayani Allahdengan memberitakan injil anak-Nya (Roma 1:9). Ayat pertama ini tidak begitu jelas, tetapi rupanya maksud Paulus demikian : Dari paulus, Hamba Allah dan Rasul Yesus Kristus, yang di utus untuk membawa orang-orang pilihan Allah kepada Imam dan kepada pengetahuan akan yang benar dan ibadah kepada Allah ,” nama Saulus adalah nama Ibrani, paulus adalah nama Romawinya. Tetapi Paulus memakai nama Romawi, sebab ia telah menjadi rasul untuk bangsa asing. Ia berbuat demikian supaya pekerjaannya lebih maju diantara bangsa asing.
            Paulus rindu supaya semua orang Kristen megenal kebenaran itu. Jika kebenaran itu diterima dengan iman, maka hal itu mendatangkan ibadah yang sejati, ibadah kepada Allah yang memebrikan hidup yang kekal. Kebenaran itu harus di terima dengan iman dan tidak boleh di campur dengan kecemaran atau dosa.  Injil Allah menuntut ibadah dan kesucian. Injil itu lain sekali dari agama-agama kafir yang memang sudah dicemarkan oleh dosa. Paulus merasa bahwa ia ditugaskan untuk membimbing tiap-tiap orang yang percaya kepada Kristus. Firman Allah atau kalam Allah dinyatakan kepada dunia ini melalui pemberitaan Injil. Paulus mengatakan bahwa Allah Juruselamat kita berpesan dan memerintahkan agar ia memberitakan injil. Jadi paulus merasa dirinya telah dipanggil oleh Tuhan . bahkan ia pernah berkata “celakalah aku , jika aku tidak memberitakan Injil”.
            Paulus menyampaikan salam kepada Titus,””hai anakku yang sah menurut iman kita bersama”. Lalu ia memintakan Kasih karunia yang mendatangkan damai sejahtera dari Allah dan Yesus Kristus. Paulus meninggalkan titus di Kreta supaya ia menyempurnakan segala sesuatuyang sempurna di situ. Kehendak Paulus ialah supaya titus sebagai seorang penginjil menyirami benih yang baik yang telah ditanam oleh Paulus sendiri. Paulus tidak lama tinggal di Kreta sebab ia merasa terpanggil untuk pergi ke berbagai tempat. Dan tabiat yang dilakukan oleh Paulus ialah selalu menentukan satu orang untuk meneguhkan dan membimbing supaya jemaat yang muda itu dapat bertumbuh.
2.      Maksud Paulus meninggalkan titus di Kreta (1:5)
Titus tidak sampai menjadi rasul, tetapi ia mendapat suatu tugas yang lebih tingi daripada para penatua dan penilik jemaat. Hal ini nyata dalam permintaan Paulus kepada Titus, supaya ia menetapkan para penatua sidang di tiap-tiap kota sesuai dengan pesannya sebelum ia berangkat dari pulau kreta. Rupanya ada beberapa orang dalam jemaat yang menentang Titus ketika ia melaksanakan tugasnya itu. Oleh sebab itu, Paulus memberikan pesan ini dalam suratnya supaya segenap anggota jemaat di pulau Kreta mengetahuinya.
            Jemaat Kristus perlu diatur dengan baik dan diteguhkan. Dalam ayat 5 nyata bahwa ada banyak orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus di Pulau Kreta. Kita dapat ketahui sebab paulus berpesan kepada Titus untuk menetapkan penatua-penatua di tiap-tiap kota. Jadi ini membuktikan bahwa di banyak kota sudah ada orang-orang percaya, walaupun belum ada jemaat yang teratur di tempat itu. Penatua-penatua patut memelihara jemaat-jemaat dan melakukan pekerjaan sebagai gembala sidang. Keindahan jabatan ini dijelaskan dalam Kis 20:28. Di situ Rasul paulus mengingatkan para penatua di Efesus bahwa mereka itu sudah ditetapkan oleh Roh Kudus untuk menjadi penilik jemaat. Dan selanjutnya Roh kudus mengemanatkan kepada mereka supaya mereka mengge,mbalakan jemaat Allah yang ditebus oleh-Nya sendiri. Pekerjaan penatua ialah melengkapkan dan menyempurnakan orang-orang suci dengan jalan membangun tubuh Kristus sampai “kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingklat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”(Efesusu 4:13).
3.      Syarat-syarat bagi penatua atau penilik jemaat (1:6-9)
            Syarat-syarat bagi penilik jemaat atau penatua dinyatakan dalam ayat 6-9. Ada 15 syarat bagi penilik jemaat. Bagi umumnya penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercela, artinya ia harus mempunyai nama baik di antara anggota-anggota jemaat dan di antara orang-orang di luar jemaat. Penilik jemaat hanya boleh memiliki seorang istri saja. Adakalanya perkataan ini ditafsirkan menurut tradisi. Akan tetapi lebih baik ditafsirkan sebagai mana yang dikatakan Alkitab. Dari arti kataitu nyata bahwa seorang penilik tidak boleh seorang yang sudah cerai atau yang sudah menceraikan istrinya. Kalau istrinya yang pertama telah meninggal ddunia dan ia menikah lagi, maka hal itu tidak akan menjadi suatu halangan pada masa sekarang. Akan tetapi dalam jemaat yang mula-mula, hal itu tidak diperkenankan (Taf Timotius dan Titus oleh J. Wesley Brill hal 29) . gereja roma katoloik menafsirkan ayat ini dengan “ia tidak boleh beristri” oleh sebab itu mereka melarang pastor-pastornya menikah, tetapi hal itu bertentangan dengan perkataan Rasul Paulus dalam I kor 9:5. Ajaran roma khatolik itu tdk sesuai dengan apa yang kita baca dalam I Tim 4:3. Di dalam Alkitab tidak ada bagian yang melarang seoramhg penilik jemaat atau penatua menikah. Sebaliknya ada banyak ayat yang mengijinkannya.
            Tiap-tiap penilik jemaat patut menyadari bahwa ia adalah wakil Allah, yaitu juru kunci Allah.  Seorang wakil Allah haruslah tidak bercacat. Patut kita ingat bahwa semakin mulia seorang tuan. Semakin mulia pula tuntunan atas wakilnya. Kalau demikian halnya yang terjadi pada manusia, apalagi pada Tuhan. Para penilik jemat bukan hanya pejabat dalam jemaat. Melainkan menjadi wakil Allah dan menjadi pemerintah dalam rumah Allah. Jadi tiap-tiap penilik jemaat wajib bertindak sebagai wakil Allah. Penilik atau penatua jemaat hendaknya bukan seorang yang angkuh, yang mementingkan dirinya sendiri dan yang kehidupannya haya berpusat pada dirinya sendiri. Orang yang tinggi hati tidak dapat merendahkan dirinya untuk dapat menolong orang lain. Penatua hendaknya bukan seorang pemarah sebab seorang pemarah tidak dapat menguasai dirinya. Dan jikalau ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri, bagaimanakah ia dapat memerintah dalam jemaat Tuhan?
Penilik jemaat janganlah seorang pemabuk. Dalam beberapa bahasa kata ini diterjemahkan dengan “janganlah ia seorang yang menggemari anggur atau janganlah ia menyerahkan diri kepada anggur”. Mungkin juga ia seorang yang menyukai air anggur walaupun ia tidak sampai menjadi pemabuk. Paulus melarang orang menggemari atau menyukai air anggur atau menyerahkan diri kepadanya.  Paulus berpesan, jangan penggemar anggur’ (I Tim 3:8). Ahli ilmu jiwa mengakui bahwa jikalau seorang berbuat sesuatu tiga kali berturut-turut, maka hal itu telah menjadi kebiasaan yang mengikat. Apalagi jikalu orang sering minum air anggur, tentu ia telah dirantai dan ditawan oleh air anggur. Sesudah jerat demikian , hanya Tuhanlah yang dapat melepaskannya. Orang-orang kristen janganlah mulai mengikatkan dari pada hal-hal demikian. “janganlah jamah ini, janganlah kecap itu, jangan sentuh itu”( kolose2:21). Ada banyak nasehat dalam Alkitab yang menuntut supaya kita menjauhkan diri dari air anggur. Air anggur mengorbankan hawa nafsu, air anggur mengubah hti orang sehingga ia menjadi lupa akan dirinya. Tegoran yang paling keras dalam Alkitab mengenai minuman keras adalah yang dikatakan Rasul paulus, “baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu (Roma 14 :21)”.
            Seorang penilik jemaat hendaknya jangan seorang yang pemberang. Pekerjaan Tuhan akan terhalang apabila penilik jemaat atau penatuanya suka berkelahi; baik dalam Rumah tangganya. Sebaliknya, ia harus seorang yang lemah lembut dan sopan santun, tidak erakah, tidak mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Penilik jemaat hendaknya jangan seorang yang ikut dalam pekerjaan Tuhan karena bermaksud mencari keuntungan bagi dirinya sendiri , karena itu bararti ia  mengharapkan laba yang keji. Dalam ayat 11 orang yang sesat semacam itu dikatakan sebagi orang yang masuk dalam pekerjaan Tuhan untuk ditutup mulutnya. Penilik jemaat hendaklah seorang yang suka memberi kepada orang lain. Hal itu membuktikan bahwa ia tidak mencari laba yang keji.
            Seorang penilik jemaat harus adil , yaitu adil terhadap manusia. Ia juga harus suci, artinya suci di hadapan Allah. Ia harus seorang yang dapat menguasai diri. Orang yang dapat menguasai dirinya lebih hebat daripada orang yang dapat memeintahkan negara. Dapat menguasai diri berarti juga dapat mengendalikan hawa nafsunya, dapat menahan lidahnya, tangannya terutama matanya. Kita patut ingat bahwa pintu pertama menuju dosa adalah mata. Dengan menolak setiap pencobaan yang dapat menjatuhkan kita, kita memperindah Injil yang kita beritakan itu. Menguasai diri berarti juga menguasai setiap hal yang baik di dalam diri kita yang harus kita kuasai. Kita harus mengendalikan diri kita secara bijaksana dan harus senantiasa berjaga-jaga.
            Seorang penilik jemaat atau penatua harus berpegang teguh pada perkataan yang benar. Ia tidak boleh menyimpang dari pengajaran Tuhan Yesus yang terdapat dalam Alkitab. Alkitab adalah firman Allah dan firman Allah dan firman Allah tidak pernah salah. Firman itu berasal dari Tuhan Yesus sendiri dan Ialah yang disebut “saksi yang setia dan benar ”. kita tahu bahwa di dalam Alkitab ada perkataan yang diucapkan oleh orang-orang suci yang diilhamkan oleh Roh Kudus kepada mereka. Seorang penilik jemaat wajib berpegang pada Firman yang mutlak itu, memegang dan mentaatinya sebagai ajaran dan sebagai peraturan dalam kehidupannya. Paulus mengatakan, “Aku telah memeliharakan iman” . Ia juga mengatakan , sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepada mu” (Kis 20:27). Apakah faedahnya seseorang berpegang pada ajaran yang benar ??? kita dapat mengetahui jawabannya dari ayat 9, yaitu agar ia dapat menasehatiu orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup menyakinkan penentang-penentangnya. Bagaimana mungkin hal itu dapat dilakukan oleh seorang penilik jemaat kalau ia tidak berpegang pada ajaran yang benar ?
            Di sini dapat kita lihat dua macam tugas penilik jemaat atau penatua yaitu : pertama, ia harus dapat menasehati orang-orang yang ingin mengetahui hal yang benar dan yang mau melakukan yang benar. Kedua, ia harus dapat menmpelak orang-orang yang melawan yang benar. Tetapi dengan cara apakah ia menempelak orang-orang yang suka melawan itu ?? dengan ajaran yang benar itu ia meneguhkan orang yang mau taat. Perdebatan tidak akan memperbaiki kesalahan orang. Hanya ajaran yang berdasarkan firman Tuhan yang benar yang dapat memperbaikinya. Perhatikanlah, orang yang mau mentaati Firman Tuhan hanya perlu di nasehati, tetapi orang yang tidak mau menuruti yang benar harus ditelempak.
4.      Perangai orang Kreta yang kurang baik (1:10-16)
Mereka telah berpaling dari ajaran yang benar dan mengeluarkan perkataan yang sia-sia, teristimewa mereka yang berpegang pada hukum sunat. Rupanya mereka adalah orang Yahudi  yang mengaku dirinya percaya kepada Yesus Kristus, tetapi mereka mencampur agama Yahudi dengan ajaran agama Kristen. Dengan demikian mereka telah menajiskan orang Kristen. Dengan demikian mereka telah menajiskan agama Kristen dan menyesatkan banyak orang. Paulus menyebut mereka guru-guru sesat. Seringkali mereka itu pandai berbicara tetapi sebenarnya mereka penipu.
            Seorang penilik jemaat yang baik wajib dengan segera melawan penyesat-penyesat agar ajaran yang sesat tidak sampai menyesatkan banyak orang. Alasan untuk menegor mereka sudah jelas, agar anggota jemaat Kristus tidak berbalik dari ajaran yang benar janganlah memberikan kesempatan kepada penyesat untuk mengajarkan hal-hal yang tidak benar, sebab mereka itu loba akan uang. Mereka itu merupakan bukti dari perkataan Paulus kepada Timotius :”karena akar segala kejahatan ialah cinta uang”.
            Dalam ayat 122-16 Paulus menerangkan keadaan dan tingkah laku sebagian besar orang Kreta. Pada waktu itu orang Kreta menyebut para penyair “nabi”.  Itu tidak berarti bahwa mereka adalah nabi Tuhan; mereka hanya penyair. Paulus mengutip’ buah ucapan dari salah seorang penyair itu, seorang Kreta sendiri. Sebab ia seorang Kreta, tentu ia tidak akan memfitnah bangsanya sendiri. Lagipula perkataan itu benar dan sudah di kenal sebagain pepatah di antara golongan dan bangsa itu, yaitu, “Dasar orang Kreta pembohong, seperti binatang buas, pelahap yang malas”. Pada masa itu bila seorang mengatakan “secara Kreta”, artinya sama dengan “membohong”.  Namun Paulus membenarkan ucapan itu karena merupakan ilham Roh Kudus kepadanya.
            Pada waktu itu dongeng-dongeng orang Yahudi merajalela dan banyak diantanya yang telah meresap masuk ke dalam jemaat. Dongeng-dongeng itu mengajarkan hukum manusia, bukan hukum Allah, sebab orang-orang yang mengajrakannya telah berpaling dari ajaran Allah yang benar.oleh sebab itu Paulus menyuruh Titus agar ia menegor orang dengan lemah kasar karena mereka sudah tidak karuan.
5.      Perhatikan perkataan “bagi orang suci semuanya suci”(1:15)
             Diantara guru-guru sesat di pulau Kreta itu, ada golongan yang mengajar orang-orang sehingga mereka menjadi gelojoh (rakus), dan ada pula golongan lain yang mengajar untuk membedakan makanan mana yang baik dan suci dan makanan yang najis yang tak boleh dimakan. Palus menyatakan bahwa kedua-duanya salah, dan ia menuntut pikiran yang suci dan suara hati yang bersih di hadapan Allah. Kesucian atau kenajisan tidak bergantung kepada makanan ataupun benda-benda, melainkan kepada orang yang makan makanan itu dan caranya mempergunakan benda itu. Bagi orang yang suci hatinya, tiap-tiap perkara adalah suci. Tetapi bagi orang yang najis hatinya dan yang tak beriman, satupun tak ada yang suci, bahkan akalnya dan perasaan hatinya pun najis.
            Orang sesat mengaku dirinya mengenal Allah, tetapi dengan perbuatannya ia menyangkal Dia dan meniadakan Dia. Makin lama mereka menjadi semakin mendurhaka kepada Allah. Oleh sebab itu kita harus memalingkan diri dari orang-orang seperti itu. Paulus mengatakan, bahwa guru-guru sesat tidak sanggup melakukan sesuatu yang baik. Kita harus memilih yang baik, supaya kita suci dan tak bercacad menjelang hari Kristus, penuh dengan  buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memulihkan dan memuji Allah. Seperti Paulus memberi amanat kepada titus, demikian juga sekarang Tuhan Allah memberi amanat kepada kita, terutama kepada gembala sidang dan penatua. Baiklah kita setia kepada-Nya serta mentaati segala printah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita dalam pasalini. Dan hendaklah kita ingat, bahwa pengakuan kita tidak akan ada faedahnya jika kelakuan kita menyangkal dan meniadakan Tuhan Allah.
            Dalam sebuah buku kumpulan kata-kata bijak ada kalimat yang mengatakan demikian: "Jika dalam suatu masyarakat ada keteraturan dan kedisiplinan, berarti aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat itu dilaksanakan dengan benar dan tepat. Sebaliknya, jika dalam suatu masyarakat terdapat kekacauan dan ketidak teraturan, berarti aturan yang berlaku disepelekan!"
Jemaat Kristus harus hidup teratur karena itu perlu ada aturan. Dan untuk melaksanakan aturan-aturan tersebut harus ada pelaksana yang notabene adalah orang-orang yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang sudah ditetapkan. Paulus menerapkan hal itu kepada jemaat Tuhan di Kreta karena Kristen belum hidup teratur.Untuk itu sebagi pengajar harus mampu menciptakan kehidupan yang teratur khusunya bagi siswa/ peserta didik.

II.b.
Pasal II: meneguhkan
1.      Nasehat kepada Titus (2:1,7,8,15)
Dalam pasal yang kedua ini Paulus mengajarkan bagaimana sepatutnya sikap seorang anggota jemaat . paulus juga berpesan kepada Titus bagaimana seharusnya ia mengajar anggota-anggota jemaat itu. Ajaran guru-guru sesat seperti yang dikatan dalam pasal pertama sangat berbeda dengan ajaran titus yang terdapat dalam pasal pertama sangat berbeda dengan ajaran titus yang terdapat pasal kedua ini. Meskipun titus tidak berarti bahwa tidak perlu lagi mengajar anggota-anggota jemaat itu, aia bahkan tidak henti-hentinya mengabarkan Injil kepada orang banyak. Paulus menesehati Titus supaya ia memberikan ajaran yang benar artinya ajaran yang diberikan haruslah ajaran yang murni, tidak menyimpang dari Firman Allah dan harus meneguhkan serta menguatkan setiapa orang percaya.
2.      Nasehat kepada Orang Tua (2:2-4)
Ajaran benar harus diberikan kepada setiap golongan yang terdapat dalam jemaat. Selain secara umum, seorang gembala atau penilik jemaat wajib juga memberikan ajaran khusus dan yang tepat bagi tiap-tiap golongan, yaitu yang khusus bagi orang tua dan yang khusus bagi orang muda. [2]Pelayanan pastoral merupakan kewajiban. Dampak sikap demikian membawanya kepada pelayanan robotisasi, yaitu bekerja secara robot  yang menunaikan kewajiban karena tugas saja. Ada suatu pesan bagi orang laki-laki yang sudah tua harus tetap setia mentaati ajaran Kristus. Mereka tidak boleh berpendapat bahwa karena sudah tua mereka boleh melakukan hal-hal yang dilarang bagi orang lain. Paulus berpesan kepada mereka agar mereka hidup sederhana, terhormat, bijaksana, serta sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Orang yang tua cepat sakit hati dan besungaut-sungut, sebab itu paulus perlu mengingatkan mereka agar bijaksana.
            Paulus meminta agar perempuan-perempuan yang sudah tua itu cakap mengajarkan hal-hal yang baik. Disamping itu juga agar mereka mendidikperempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-nakanya, hidup bijaksana dan suci rajin mengatur rumah tangganya dengan baik agar tidak dicela oleh orang-orang yang tidak seiman.  Karena itu Paulus juga mengatakan “Hai , Istri, tunduk kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala Jemaat. Dialah yang menyelamatkan Tubuh” (Efesus 5:22,23).
Kristus menjadi kepala jemaat supaya Ia melindungi dan menyelamatkan jemaat, serta melengkapi  jemaat itu dengansegala sesuatu yang baik, dan melepaskan jemaat itu daripada segala kejahatn. Demikian juga tugas suami kepada istrinya, ia wajib memelihara istrinya dan melindunginya dari segala bahaya serta memberikan kepadanya hal-hal yang baik. Mereka harus memelihara jiwa mereka mereka dan mendidik mereka dalam hal-hal rohani, terutama membimbing anak-anak itu supaya mereka percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, firman Allah Tidak akan di hujat oleh orang-orang yang di luar jemaat.
3.      Nasehat kepada orang muda (2:6-8)
Ada juga kewajiban orang-orang muda. Seringkali mereka itu cepat marah dan kurang bijaksana serta kurang dapat menguasai diri; sebab itu mereka patut diajar supaya berakal budi, tidak cepat marah, melainkan suka mendengarkan nasihat dan merendahkan diri. Janganlah orang laki-laki yang masih muda berkeras kepala, melainkan hendaknya mereka merendahlan diri.Orang muda sering jatuh pada kesombongannya. Sebab itu orang-orang yang masih muda perlu menyadari hal itu, agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa dan dukacita. Demikianlah pesan yang diberikan Paulus kepada Titus, supaya titus mengajarkannya kepada orang lain.
4.      Nasehat kepada Hamba (2:9-10)
Ayat 9dan 10 ditujukan kepada hamba. Memang kemerdekaan melalui Kristus dan persaudaraan di antara orang-orang yang telah menerima Injil sangat bertentangan dengan perhambaan. Pada masa jemaat mula-mula, hamba-hamba yang sudah percaya kepada Kristus banyak yang salah mengerti tentang kemerdekaan yang daripada Kristus juga membebaskan mereka dari tugasnya sebagai hamba. Ajaran untuk hamba yang dapat kita lihat dalam alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengasihi para hamba dan Tuhan amat memperhatikan keadaan mereka.
            Rasul Paulus tidak menginginkan hamba-hamba menganggap derajat mereka terlalu. Ia tidak menghendaki para hamba berpikir bahwa karena mereka di bawah perintah manusia, mereka terlepas dari perintah Tuhan.  Paulus juga memperingatkan supoaya setiap hamba mentaati perintah Tuannya dengan mengingat bahwa tuannya juga mempunyai Tuhan yang ada di dalam sorga. Titus diberi tugas mengajar orang-orang yang mempunyai hamba-hamba tentang kewajiban mereka terhadap hamba-hambanya. Disamping itu Titus juga di wajibkan mengajar para Hamba tentang kewajiban mereka terhadap tuannya. Bahwa perhambaan telah diberantas dari dunia ini. Dan Alkitab memberikan prinsip-prinsip itu sekarang dapat diterapkan keopada orang-orang yang menjadi pelayan dalam rumah orang. Lebih baik prinsip itu diterapkan kepada orang yang bekerja untuk orang lain.
            Tuhan telah menyatakan, “Aku memberimu sebuah perintah agar kamu saling mengajarkan ajaran kerajaan. Mengajarlah kamu dengan tekun dan kasih karunia-Ku akan bersamamu, agar kamu dapat diberi petunjuk dengan lebih sempurna dalam hal teori, asas, ajaran, hukum Injil dan dalam segala hal yang berkenaan dengan kerajaan Allah, yang perlu bagimu untuk dipahami” Dalam memberikan perintah ini, Tuhan memberi kita tanggung jawab kudus. Dia juga menuntun kita pada kesempatan-kesempatan yang tak terbatas untuk pelayanan yang bermakna. Beberapa pengalaman sebanding dengan sukacita menolong orang lain belajar dan menjalankan Injil.
            Perintah untuk mengajar ini berlaku bagi Anda, bahkan jika saat ini Anda tidak memiliki pemanggilan resmi sebagai guru. Anda memiliki kesempatan mengajar sebagai anggota dari keluarga Anda, sebagai pengajar ke rumah atau pengajar berkunjung, dan bahkan sebagai rekan kerja, tetangga, serta teman. Kadang-kadang Anda mengajar melalui kata-kata yang telah Anda siapkan untuk diucapkan. Kadang-kadang Anda dapat mengambil manfaat dari saat-saat singkat yang tak terencana dimana Anda dapat membagikan kebenaran-kebenaran Injil. Sebagian besar Anda mengajar melalui teladan.
            Dan tentunya sasaran utama ialah meneguhkan iman nara didik agar senantiasa berpengharapan teguh kepada Tuhan yaitu tentang pengharapan akan kedatangan TuhanYesus yang ke duakali ini.
II.C.
Pasal III: Mengingatkan agar melakukan pekerjaan Yang baik
1.      Kewajiban setiap warga negara
            Paulus telah berpesan kepada Titus memberikan pengajaran yang khusus kepada masing-masing golongan di dalam jemaat. Dalam pasal ini ia menyuruh titus memberikan ajaran yang umum untuk seluruh anggota jemaat. Mereka di nasehati agar selama mereka hidup di dunia ini mereka siap melakukan setiap pekerjaan yang baik, tunduk kepda pemerintah dan bersikap ramah serta lemah lembut terhadap semua orang. Sebenarnya dalam kitab ini bagaimana kita dapat memuliakan ajaran Allah yaitu Injil Kristus. Paulus mengetahui bahwa orang-orang Kreta tidak suka tunbduk terhadap pemerintah Romawi. Paulus juga tahu bahwa orang-orang Yahudi yang ada di pulau Kreta sering melawan pemerintahan romawi itu. Jemaat disitu terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang Kreta. Paulus manesehati mereka supaya tunduk serta taat tiap pekerjaan yang baik. Oleh karena sifat-sifat orang kreta yang tidak suka tunduk kepada pemerintah, maka nasehat ini tidak disukai oleh beberapa anggota jemaat di pulau Kreta. Tetapi bila seseorang tidak senang menerima ajaran yang baik, maka hal itu membuktikan bahwa ajaran itu justru perlu baginya.
            Setipa anggota Krosten harus taat kepada hukum-hukum negara dan tunduk kepada pemerintah. Sebenarnya pemerintah itu ditentukan oleh Allah, dan menjadi wakil Allah untuk kebaikan rakyat. Pemerintah menghargai kebaikan  dan kebajikan rakyatnya, tetapi menghukum yang bersalah.  Paulus meminta supaya kita siap melakukan tiap-tiap pekerjaan yang baik. Artinya, siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik terhadap sesama manusia dan terhadap pemerintah. Jika kita diperintahkan untuk berbuat sesuatu yang nyata salah atau berdosa, tentu kita tidak perlu mentaati perintah itu. Orang Kristen boleh menyatakan kesalahan orang, tetapi hal itu hendaknya dilakukan dengan sopan dan tidaak memfitnah.


2. perlunya melakukan pekerjaan yang baik
            Rasul paulus berkata, “perkataan ini benar”. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah semua perkataan yang telah dikatakannya kepada Titus. Paulus menghendaki supaya Titus menguatkan dengan tegas segala yang telah diajarkan Paulus kepadanya. Orang yang percaya kepada Allah patut berusaha mengerjakan segala kebajikan. Paulus berpesan kepada Titus supaya ia menuntut perbuatan-perbuatan yang baik dari orang Kristen. Teori belajar Behacvioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan .pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
            Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
            Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya para psikolog yang memberi sumbangsih mengenai perbuatan ataupun perbuatan   baik ini akan tetapi sebagai Pengajar Kristen harus lebih fokus untuk mengajarkan berperilaku yang baik, baik seluruh aspek hidup anak didik.


BAB III.
PENUTUP
III.a. Kesimpulan
            Surat Paulus kepada Titus ini merupakan surat yang pada latar belakangnya bertujuan untuk membimbing Titus, murid dari Paulus yang ditinggalkan Paulus di Kreta untuk dapat membimbing gereja yang ada di Kreta. Jemaat Kreta adalah jemaat yang baik, namun pada waktu surat ini ditulis, jemaat di Kreta sedang mengalami serangan dari guru-guru palsu yang menyebarkan ajaran yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Paulus dahulu. Surat ini memberikan pada Titus instruksi akan apa yang harus ia lakukan untuk menghalau guru-guru palsu tersebut. Dan berbagai cara yang harus diperhatikan Rasul Paulus terhadap Titus  yang ada di Kreta untuk memperhatikan situasi yang terjadi pada saat itu diantaranya ialah Paulus meminta Titus untuk segera mengangkat penatua untuk jemaat di Kreta. Hal ini dikarenakan jemaat yang belum sepenuhnya kokoh ini membutuhkan seorang contoh untuk mereka teladani. Kemudian Paulus mengarahkan Titus agar ia mengajarkan doktrin yang benar menurut prinsip pengajaran Kristus.
            Jadi seorang pengajar khususnya Guru PAK harus bisa mengimplikasikan hal-hal diatas sebagaimana yang Tuhan kehendaki dan tentunya karena memang perintah Tuhan bahwa harus mengajarkan berulang-ulang dan mengabarkan INJIL Kristus.

III.b. Saran
            Makalah ini memang tidak terlepas dari kekurangan, karena memang sebagai manusia ciptaan Tuhan tidak ada yang sempurna tetapi waktu dan kesempatan yang memungkinkan akan makalah ini terselesaikan. Jadi sebagai penulis menerima saran dan sumbangsih para pembaca secara khusus kepada Dosen saya mata kuliah Ekspos PB III , Pdt.Maruhal Siringo-ringo,M.Th agar kedepan semakin bisa dalam penyusunan Ilmiah.





DAFTAR PUSTAKA
J. Wesley Brill, Tafsiran Surat Timotius & Titus (Kalam Hidup)
J. Tidball Derek teologi penggembalan (suatu pengantar) , Gandum Mas 1998.
Pdt. Dr. Paulus Daun, Th.M. teologia penggembalaan (teologia pastoral), yayasan daun                Family
Alkitab pegangan
Alkitab Penuntun ,Kalam Hidup



Saya sudah membaca surat penggembalaan Rasul paulus secara komperehensif dan berkata  jujur di hadapan Tuhan
Dengan adanya  perjanjian / kontrak belajar dengan Dosen pengampuh saya Pdt. Maruhal Siringo-ringo
Yang bertanda tangan di bawah ini :

      ( Rani Alida Simbolon    )



[1] Teori belajar-mengajar, S. Nasution, 49
[2] Teologia Penggembalaan, Pdt. Dr. Paulus Daun, Th.M