MAKALAH
“PENGAJAR YANG BENAR MENURUT SURAT
PENGGEMBALAAN RASUL PAULUS”
(TITUS PASAL I, II, DAN III)
Sebagai
persyaratan mata kuliah Eksposisi Perjanjian Baru III
Dosen
Pengampuh :
MARUHAL
SIRINGO-RINGO M.Th
Disusun
Oleh :
Rani.A.Simbolon
Semester
: V (lima )
JAKARTA
2013
DAFTAR
ISI
BAB.I.
PENDAHULUAN
I.a. Latar
belakang................................................................................................
I.b. Tujuan
Penulisan............................................................................................
BAB.II. A. PENGERTIAN
II.a. pengajar secara
umum.............................................................................
II.b. pengajar menurut iman
kristiani...............................................................
B. PENGAJAR YANG BENAR MENURUT SURAT TITUS
II.a. Pasal I : menciptakan Jemaat
yang teratur.................................................
II.b. Pasal II: meneguhkan..................................................................................
II.C. Pasal III: Mengingatkan agar
melakukan pekerjaan Yang baik.......................
BAB
III. PENUTUP
III.a.
Kesimpulan......................................................................................................
III.b.
Saran...............................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Surat ini di tulis di makedonia
kira-kira pada tahun 66 atau 67. Surat ini membicarakan asas ajaran Kristen,
pemerintahan dalam jemaat dan bagaimana titus seharusnya bertindak terhadap
anggota jemaat, terhadap yang bersalah, maupun yang tidak bersalah. Di tinjau
dari kata pendahuluannya yang amat panjang, kelihatannya surat ini adalah
sebuah surat resmi. Rupanya Paulus menghendaki agar surat ini bukan saja di
baca titus, tetapi juga oleh semua anggota jemaat. Memang Paulus telah
menetapkan titus sebagai wakilnya di Kreta.
Titus adalah seorang Yunani dan
sahabat karib rasul Paulus. Ia bahkan merupakan penolong Paulus, yang pernah di
utus oleh Paulus untuk mengunjungi beberapa jemaat supaya ia dapat membantu
pelayanan di dalam jemaat-jemaat itu. Dua kali ia menjadi utusan Paulus ke
jemaat di Korintus. Ia amat setia dan sama sekali tidak mementingkan dirinya
sendiri. Ia telah menyertai Paulus dan Barnabas pada waktu mereka pergi ke
Yerusalem. Ia sehati dengan Rasul Paulus kepada jemaat di korintus, baik yang
pertama maupun yang kedua. Oleh Paulus ia di tinggalkan di pulau Kreta supaya
ia dapat menyempurnakan apa yang belum sempurna dalam jemaat itu serta mengatur
dan membangun jemaat itu. Titus juga mengangkat penatua-penatua dalam tiap-tiap
jemaat seperti yang dilakukan Paulus sebelum Paulus meninggalkan pulau Kreta
itu.
Titus menyertai Paulus pada waktu
Paulus dipenjarakan di Roma. Dan rupanya surat Paulus ini ditulis kepada Titus
sebelum Paulus di penjarakan untuk kedua kalinya, tidak lama sebelum Rasul
Paulus di bunuh. Walaupun Paulus amat mengasihi Titus, Paulus tidak menyatakan
isi hatinya kepada Titus sama seperti yang dilakukannya kepada Timotius.
Rupanya Titus lebih tua daripada Timotius serta lebih teguh pendiriannya, sebab
Paulus pernah dua kali mengutus Titus ke Korintus untuk mengatur hal-hal yang
sulit dalam jemaat itu. Jadi jelaslah bahwa Paulus menganggap Titus sebagai
seorang yang dapat menyelesaikan hal-hal yang demikian.
Paulus melihat Titus sebagai seorang
yang mempunyai kepribadian yang teguh serta bijaksana dalam pergaulan. Titus
bukanlah seorang uskup yang diangkat untuk menetap di pulau Kreta itu,
melainkan Titus merupakan seorang pengabar Injil yang pergi ke berbagai tempat.
Di sini nyata bahwa Injil sudah samapaike pulau kreta sebelum Paulus dan titus
tiba di sana. Karena Paulus adalah seorang rasul yang mengurus/banyak jemaat,
maka ia tidak dapat tinggal lama di pulau Kreta. Maka ia meninggalkan Titus
supaya ia menyempurnakan pekerjaan yang telah di mulai oleh mereka sendiri.
B.
Tujuan penulisan makalah
Penulis bertujuan untuk menggali dan
berusaha memaparkan apa yang menjadi permasalahan yang terdapat dalam surat
penggembalaan rasul Paulus terhadap Titus. Dan sesungguhnya penulisan ini pun
terjadi semua karena tuntutan akademis yang di bidangngi oleg Dosen pengajar
saya. Penulis berusaha membentangkan pokok-pokok bahasan dalam surat Titus. Supaya orang-orang
Kristen mengerti arti dan isi pengajaran Kitab Titus, sehingga mereka
melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara Khusus sebagai landasan
bagi pengajar PAK di dalam kalangan pelayanan dan dimanapun berada sehingga
mempu menjadi teladan dan sebagai saluran/alat untuk mengabarkan INJIL.
BAB II
PENGERTIAN
II.
a. DEFENISI PENGAJAR SECARA UMUM
Secara umum, Pengajar adalah suatu usaha guru yang
mengatur lingkungannya sehingga terbentuk situasi dan kondisi yang
sebaik-baiknya bagi anak yang diajar, sehingga belajar itu bukan hanya dapat
berlangsung diruangan kelas, tetapi dapat pula berlangsung bagi sekelompok
siswa di luar kelas atau di tempat-tempat lain yang memungkinkan siswa tersebut
untuk belajar.
Untuk
lebih jelasnya, maka penulis akan mengemukakan beberapa teori tentang mengajar
yaitu:
Pengertian lama:Mengajar adalah penyerahan
kebudayaan berupa pengalaman, kecakapan kepada anak didik kita, atau usaha
untuk mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikutnya.
Pengertian baru:Mengajar adalah bimbingan kepada siswa
dalam proses belajar. Dengan melihat defenisi ini maka jelas bahwa yang aktif
dalam proses belajar adalah siswa itu sendiri, sedangkan guru hanya tinggal
mengawasi, mengkoordinir dan membimbing siswa agar sesuai dengan kebutuhannya
dan mengingat kepribadian anak yang berbeda-beda. Dalam hal ini siswalah yang
lebih aktif dalam memikirkan hal-hal yang sedang dipelajari.
[1]S. Nasution, memberikan beberapa defenisi tentang
mengajar sebagai berikut:
1.Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak.
2.Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak
didik.
3.Mengajar adalah aktifitas mengorganisasi atau
mengatur lingkungan sebaik-baiknya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
4. Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk
menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan
untuk berlangsungnya proses belajar.
Jadi, mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada
anak didik. Menurut pengertian ini, berarti tujuan dari siswa itu hanya ingin
mendapatkan atau menguasai pengetahuan. Jadi siswa cenderung untuk pasif karena
hanya menerima informasi atau menguasai pengetahuan yang diberikan oleh
gurunya, sehingga ada juga yang menyebut pengajaran seperti ini sebagai
pengajaran yang intelektualitas.
Jadi
tujuan akhir dari mengajar itu tidak lain adalah untuk membimbing anak/ Siswa
agar mengalami perubahan.
II.
DEFENISI PENGAJAR MENURUT IMAN KRISTIANI
a) Istilah belajar
Menurut PL
Istilah-Istilah Belajar Mengajar
dalam Perjanjian Lama Ada empat kata Ibrani yang biasa digunakan dalam Alkitab
untuk menjelaskan tentang pengajaran; yaitu "lamad" (mengajar), "yada"
(mengetahui), "bin" (bisa
membedakan atau memahami), dan "zahar"
(memperingatkan).
Lamad adalah kata
Ibrani yang paling sering dikaitkan dengan proses belajar mengajar. Aslinya,
"lamad" berarti mendorong lembu agar dia terus berjalan. Kemudian
kata tersebut digunakan untuk menegaskan bagaimana membuat seseorang tahu
tentang sesuatu. Lamad sebenarnya berarti "menyebabkan belajar", yang
merupakan satu indikasi jelas bahwa pengajaran yang alkitabiah tak dapat
dipisahkan dari belajar. Kita yang mengaku menjadi guru, belum dapat dikatakan
mengajar sampai seseorang yang kita ajar belajar. Pengertian lamad ini
mengembalikan kebenaran ke asalnya.
Contoh
kata lamad ini ditemukan di Kitab Ulangan: "Engkau harus
"mengajar" (lamad) mereka, supaya mereka melakukannya" (B5:31).
Coba perhatikan, hukum-hukum Tuhan diajarkan bukan sebagai pengetahuan yang
abstrak, tapi diajarkan dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Yada menjelaskan
suatu tingkat pemahaman yang dalam, kata ini banyak digunakan dalam Perjanjian
Lama untuk menjelaskan kedekatan seksual. Namun demikian, Yada digunakan dalam
kitab Yosua untuk menggambarkan respons bangsa Israel terhadap petunjuk Tuhan:
"supaya kamu "mengetahui" (yada) jalan yang harus kamu
tempuh" (3:4). Di sini, Tuhan berbicara dan memberi petunjuk kepada bangsa
Israel melalui Tabut Perjanjian. Ketika dibawa, tabut ini menyampaikan maksud
Tuhan; bahwa pengetahuan membuat bangsa Israel mampu menyelesaikan
perjalanannya. Pengetahuan menuntun pada satu tindakan.
Bin awalnya
berarti "memisahkan", tapi karena bahasa Ibrani berkembang, kini bin
berarti "membedakan" atau "memahami". Kita membaca dalam
Nehemia bahwa setelah orang-orang Yahudi membangun kembali tembok Yerusalem,
"orang-orang Lewi 'mengajarkan' (bin) Taurat kepada orang-orang itu"
(8:7). Kini, beberapa orang menganggap konsep ini sebagai pengertian batin,
yang menuntun pada satu tindakan yang bertolak belakang dengan pemahaman logika
yang tidak dapat dipraktikkan dalam kehidupan.
Zahar merupakan
kata Ibrani keempat yang akan kita pelajari. Kata ini sebenarnya berarti
"memancarkan cahaya", lalu kata ini berarti
"memperingatkan". Dalam Yehezkiel, nabi Tuhan diperintahkan untuk
"memperingatkan" (zahar) orang jahat itu dari hidupnya yang jahat
supaya ia tetap hidup (3:18). Tujuan dari suatu peringatan adalah untuk
memperbaiki tindakan. Seseorang yang menerima peringatan harus memerhatikannya.
Jika tidak, peringatan itu akan menjadi sia-sia.
Di dalam PL juga banyak terdapat ataupun tertulis
mengenai pengajar yaitu Allah sendiri dilakukan terhadap umat ataupun anak
pilihannya di antaranya ialah:
|
Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu
dan mengajar engkau, apa yang harus
kaukatakan."
Mengajar
adalah(penyambung lida Allah ) meyakinkan orang lain untuk mengerti
materi yang diajarkan.
|
|
|
Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati
Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar.
|
|
|
supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang
dilakukan mereka bagi allah mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada TUHAN,
Allahmu.
|
|
|
Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: "Ya
Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami
dan mengajar kami, apa yang harus
kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu."
|
|
|
yang mengajar
tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga.
|
|
|
Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN seumur
hidupnya, selama imam Yoyada mengajar
dia.
|
b. Istilah
Belajar Mengajar dalam Perjanjian Baru
Kata-kata Yunani yang biasa digunakan dalam
Perjanjian Baru untuk menjelaskan proses belajar mengajar banyak menunjukkan
bahwa memerhatikan perintah lebih baik daripada menderita karena belajar dari
pengalaman yang menyedihkan. Istilah-istilah yang akan kita pelajari antara
lain "didasko" (mengajar), "noutheteo"
(memperingatkan/menegur), paideuo (melatih), dan "matheteuo"
(memuridkan).
Didasko digunakan lebih dari 100 kali dalam Perjanjian
Baru. Arti kata ini muncul dari kata lain, "dao", yang berarti "mempelajari".
Kata didasko sesungguhnya menunjukkan keterkaitan yang erat antara mengajarkan
suatu pelajaran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.
Dalam suratnya yang pertama untuk jemaat Korintus,
Paulus memberi tahu orang-orang Korintus agar mereka melakukan prinsip-prinsip
pengajarannya, "seperti yang kuajarkan (didasko) di mana-mana dalam setiap
jemaat" (4:17). Pesan ini sangat penting sehingga Paulus mengutus Timotius
untuk mengirimkannya sendiri. Orang-orang Korintus diharapkan memerhatikan cara
hidup Paulus dan mengikuti teladannya dalam mengikut Kristus (4:16). Sekarang,
bahkan sejak itu, perintah seharusnya menuntun pada ketaatan, yang menghasilkan
kehidupan Kristen yang benar.
Noutheteo sebenarnya
merupakan kombinasi dua kata, "nous" (pikiran) dan
"titheni" (menaruh atau menempatkan). Setelah keduanya digabung,
secara harfiah kata ini berarti mengingat. Karena noutheteo biasanya
diterjemahkan menjadi mengingatkan/menegur, atau memerintahkan, Paulus
menasihati para orang tua untuk "mendidik (anak-anak) di dalam ajaran dan
nasihat Tuhan" (Efesus 6:4).
Jika
kata sebelumnya cenderung menekankan peringatan-peringatan mengenai apa yang
tidak boleh dilakukan, paideuo membahas lebih banyak perintah yang membangun.
Kata ini bisa diterjemahkan menjadi "melatih" atau
"mendidik". Yang ditekankan di sini adalah memberikan arahan yang
positif. Ini berarti lebih dari sekadar memberi tahu anak Anda untuk tidak
meninggalkan sepeda di belakang mobil. Ini berarti Anda harus menunjukkan
kepadanya tempat yang tepat untuk meletakkan sepedanya. Seperti yang dinyatakan
oleh Paulus, "Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan memang bermanfaat untuk
... mendidik (paideuo) orang dalam kebenaran" (2 Timotius 3:16). Perintah
yang alkitabiah selalu menghasilkan perubahan perilaku yang mengarah ke
kehidupan yang benar.
Matheteuo adalah kata
keempat yang akan kita bahas pada bagian ini. Asal kata ini diambil dari kata
"manthano" (mempelajari); bentuk kata kerjanya menekankan proses
bagaimana seseorang bisa menjadi murid. Jadi, para pengikut Yesus adalah
murid-Nya karena mereka belajar dari-Nya dan setia mengikut-Nya.
B. PENGAJAR YANG BENAR MENURUT SURAT TITUS
II.a.
Pasal I: menciptakan Jemaat yang
teratur
1. Pendahuluan
dan salam Rasul Paulus kepada Titus (1:1-4)
“Dari Paulus, Hamba Allah,” betapa
indahnya jabatan itu. Hanya dalam surat ini Rasul paulus menyebut dirinya hamba
Allah. Tiap- tiap pengabar injil, bahkan yang mempunyai jabatan tertinggi
sekalipun di dalam jemaat Kristus, hanyalah merupakan hamba Allah, yang melayani
Allahdengan memberitakan injil anak-Nya (Roma 1:9). Ayat pertama ini tidak
begitu jelas, tetapi rupanya maksud Paulus demikian : Dari paulus, Hamba Allah
dan Rasul Yesus Kristus, yang di utus untuk membawa orang-orang pilihan Allah
kepada Imam dan kepada pengetahuan akan yang benar dan ibadah kepada Allah ,”
nama Saulus adalah nama Ibrani, paulus adalah nama Romawinya. Tetapi Paulus
memakai nama Romawi, sebab ia telah menjadi rasul untuk bangsa asing. Ia
berbuat demikian supaya pekerjaannya lebih maju diantara bangsa asing.
Paulus rindu supaya semua orang
Kristen megenal kebenaran itu. Jika kebenaran itu diterima dengan iman, maka
hal itu mendatangkan ibadah yang sejati, ibadah kepada Allah yang memebrikan
hidup yang kekal. Kebenaran itu harus di terima dengan iman dan tidak boleh di
campur dengan kecemaran atau dosa. Injil
Allah menuntut ibadah dan kesucian. Injil itu lain sekali dari agama-agama
kafir yang memang sudah dicemarkan oleh dosa. Paulus merasa bahwa ia ditugaskan
untuk membimbing tiap-tiap orang yang percaya kepada Kristus. Firman Allah atau
kalam Allah dinyatakan kepada dunia ini melalui pemberitaan Injil. Paulus
mengatakan bahwa Allah Juruselamat kita berpesan dan memerintahkan agar ia
memberitakan injil. Jadi paulus merasa dirinya telah dipanggil oleh Tuhan .
bahkan ia pernah berkata “celakalah aku , jika aku tidak memberitakan Injil”.
Paulus menyampaikan salam kepada
Titus,””hai anakku yang sah menurut iman kita bersama”. Lalu ia memintakan
Kasih karunia yang mendatangkan damai sejahtera dari Allah dan Yesus Kristus.
Paulus meninggalkan titus di Kreta supaya ia menyempurnakan segala sesuatuyang
sempurna di situ. Kehendak Paulus ialah supaya titus sebagai seorang penginjil
menyirami benih yang baik yang telah ditanam oleh Paulus sendiri. Paulus tidak
lama tinggal di Kreta sebab ia merasa terpanggil untuk pergi ke berbagai
tempat. Dan tabiat yang dilakukan oleh Paulus ialah selalu menentukan satu
orang untuk meneguhkan dan membimbing supaya jemaat yang muda itu dapat
bertumbuh.
2. Maksud
Paulus meninggalkan titus di Kreta (1:5)
Titus
tidak sampai menjadi rasul, tetapi ia mendapat suatu tugas yang lebih tingi
daripada para penatua dan penilik jemaat. Hal ini nyata dalam permintaan Paulus
kepada Titus, supaya ia menetapkan para penatua sidang di tiap-tiap kota sesuai
dengan pesannya sebelum ia berangkat dari pulau kreta. Rupanya ada beberapa
orang dalam jemaat yang menentang Titus ketika ia melaksanakan tugasnya itu.
Oleh sebab itu, Paulus memberikan pesan ini dalam suratnya supaya segenap anggota
jemaat di pulau Kreta mengetahuinya.
Jemaat Kristus perlu diatur dengan
baik dan diteguhkan. Dalam ayat 5 nyata bahwa ada banyak orang yang sudah
percaya kepada Tuhan Yesus di Pulau Kreta. Kita dapat ketahui sebab paulus
berpesan kepada Titus untuk menetapkan penatua-penatua di tiap-tiap kota. Jadi
ini membuktikan bahwa di banyak kota sudah ada orang-orang percaya, walaupun
belum ada jemaat yang teratur di tempat itu. Penatua-penatua patut memelihara
jemaat-jemaat dan melakukan pekerjaan sebagai gembala sidang. Keindahan jabatan
ini dijelaskan dalam Kis 20:28. Di situ Rasul paulus mengingatkan para penatua
di Efesus bahwa mereka itu sudah ditetapkan oleh Roh Kudus untuk menjadi
penilik jemaat. Dan selanjutnya Roh kudus mengemanatkan kepada mereka supaya
mereka mengge,mbalakan jemaat Allah yang ditebus oleh-Nya sendiri. Pekerjaan
penatua ialah melengkapkan dan menyempurnakan orang-orang suci dengan jalan
membangun tubuh Kristus sampai “kita semua telah mencapai kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingklat
pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”(Efesusu 4:13).
3. Syarat-syarat
bagi penatua atau penilik jemaat (1:6-9)
Syarat-syarat bagi penilik jemaat
atau penatua dinyatakan dalam ayat 6-9. Ada 15 syarat bagi penilik jemaat. Bagi
umumnya penilik jemaat haruslah seorang yang tidak bercela, artinya ia harus
mempunyai nama baik di antara anggota-anggota jemaat dan di antara orang-orang
di luar jemaat. Penilik jemaat hanya boleh memiliki seorang istri saja.
Adakalanya perkataan ini ditafsirkan menurut tradisi. Akan tetapi lebih baik
ditafsirkan sebagai mana yang dikatakan Alkitab. Dari arti kataitu nyata bahwa
seorang penilik tidak boleh seorang yang sudah cerai atau yang sudah
menceraikan istrinya. Kalau istrinya yang pertama telah meninggal ddunia dan ia
menikah lagi, maka hal itu tidak akan menjadi suatu halangan pada masa
sekarang. Akan tetapi dalam jemaat yang mula-mula, hal itu tidak diperkenankan
(Taf Timotius dan Titus oleh J. Wesley Brill hal 29) . gereja roma katoloik
menafsirkan ayat ini dengan “ia tidak boleh beristri” oleh sebab itu mereka
melarang pastor-pastornya menikah, tetapi hal itu bertentangan dengan perkataan
Rasul Paulus dalam I kor 9:5. Ajaran roma khatolik itu tdk sesuai dengan apa
yang kita baca dalam I Tim 4:3. Di dalam Alkitab tidak ada bagian yang melarang
seoramhg penilik jemaat atau penatua menikah. Sebaliknya ada banyak ayat yang
mengijinkannya.
Tiap-tiap penilik jemaat patut
menyadari bahwa ia adalah wakil Allah, yaitu juru kunci Allah. Seorang wakil Allah haruslah tidak bercacat.
Patut kita ingat bahwa semakin mulia seorang tuan. Semakin mulia pula tuntunan
atas wakilnya. Kalau demikian halnya yang terjadi pada manusia, apalagi pada
Tuhan. Para penilik jemat bukan hanya pejabat dalam jemaat. Melainkan menjadi
wakil Allah dan menjadi pemerintah dalam rumah Allah. Jadi tiap-tiap penilik
jemaat wajib bertindak sebagai wakil Allah. Penilik atau penatua jemaat
hendaknya bukan seorang yang angkuh, yang mementingkan dirinya sendiri dan yang
kehidupannya haya berpusat pada dirinya sendiri. Orang yang tinggi hati tidak
dapat merendahkan dirinya untuk dapat menolong orang lain. Penatua hendaknya
bukan seorang pemarah sebab seorang pemarah tidak dapat menguasai dirinya. Dan
jikalau ia tidak dapat menguasai dirinya sendiri, bagaimanakah ia dapat
memerintah dalam jemaat Tuhan?
Penilik
jemaat janganlah seorang pemabuk. Dalam beberapa bahasa kata ini diterjemahkan
dengan “janganlah ia seorang yang menggemari anggur atau janganlah ia
menyerahkan diri kepada anggur”. Mungkin juga ia seorang yang menyukai air anggur
walaupun ia tidak sampai menjadi pemabuk. Paulus melarang orang menggemari atau
menyukai air anggur atau menyerahkan diri kepadanya. Paulus berpesan, jangan penggemar anggur’ (I
Tim 3:8). Ahli ilmu jiwa mengakui bahwa jikalau seorang berbuat sesuatu tiga
kali berturut-turut, maka hal itu telah menjadi kebiasaan yang mengikat.
Apalagi jikalu orang sering minum air anggur, tentu ia telah dirantai dan
ditawan oleh air anggur. Sesudah jerat demikian , hanya Tuhanlah yang dapat
melepaskannya. Orang-orang kristen janganlah mulai mengikatkan dari pada
hal-hal demikian. “janganlah jamah ini, janganlah kecap itu, jangan sentuh
itu”( kolose2:21). Ada banyak nasehat dalam Alkitab yang menuntut supaya kita
menjauhkan diri dari air anggur. Air anggur mengorbankan hawa nafsu, air anggur
mengubah hti orang sehingga ia menjadi lupa akan dirinya. Tegoran yang paling
keras dalam Alkitab mengenai minuman keras adalah yang dikatakan Rasul paulus,
“baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi
batu sandungan untuk saudaramu (Roma 14 :21)”.
Seorang penilik jemaat hendaknya
jangan seorang yang pemberang. Pekerjaan Tuhan akan terhalang apabila penilik
jemaat atau penatuanya suka berkelahi; baik dalam Rumah tangganya. Sebaliknya,
ia harus seorang yang lemah lembut dan sopan santun, tidak erakah, tidak
mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Penilik jemaat hendaknya jangan
seorang yang ikut dalam pekerjaan Tuhan karena bermaksud mencari keuntungan
bagi dirinya sendiri , karena itu bararti ia
mengharapkan laba yang keji. Dalam ayat 11 orang yang sesat semacam itu
dikatakan sebagi orang yang masuk dalam pekerjaan Tuhan untuk ditutup mulutnya.
Penilik jemaat hendaklah seorang yang suka memberi kepada orang lain. Hal itu
membuktikan bahwa ia tidak mencari laba yang keji.
Seorang penilik jemaat harus adil ,
yaitu adil terhadap manusia. Ia juga harus suci, artinya suci di hadapan Allah.
Ia harus seorang yang dapat menguasai diri. Orang yang dapat menguasai dirinya
lebih hebat daripada orang yang dapat memeintahkan negara. Dapat menguasai diri
berarti juga dapat mengendalikan hawa nafsunya, dapat menahan lidahnya,
tangannya terutama matanya. Kita patut ingat bahwa pintu pertama menuju dosa
adalah mata. Dengan menolak setiap pencobaan yang dapat menjatuhkan kita, kita
memperindah Injil yang kita beritakan itu. Menguasai diri berarti juga
menguasai setiap hal yang baik di dalam diri kita yang harus kita kuasai. Kita
harus mengendalikan diri kita secara bijaksana dan harus senantiasa
berjaga-jaga.
Seorang penilik jemaat atau penatua
harus berpegang teguh pada perkataan yang benar. Ia tidak boleh menyimpang dari
pengajaran Tuhan Yesus yang terdapat dalam Alkitab. Alkitab adalah firman Allah
dan firman Allah dan firman Allah tidak pernah salah. Firman itu berasal dari
Tuhan Yesus sendiri dan Ialah yang disebut “saksi yang setia dan benar ”. kita
tahu bahwa di dalam Alkitab ada perkataan yang diucapkan oleh orang-orang suci
yang diilhamkan oleh Roh Kudus kepada mereka. Seorang penilik jemaat wajib
berpegang pada Firman yang mutlak itu, memegang dan mentaatinya sebagai ajaran
dan sebagai peraturan dalam kehidupannya. Paulus mengatakan, “Aku telah
memeliharakan iman” . Ia juga mengatakan , sebab aku tidak lalai memberitakan
seluruh maksud Allah kepada mu” (Kis 20:27). Apakah faedahnya seseorang
berpegang pada ajaran yang benar ??? kita dapat mengetahui jawabannya dari ayat
9, yaitu agar ia dapat menasehatiu orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup
menyakinkan penentang-penentangnya. Bagaimana mungkin hal itu dapat dilakukan
oleh seorang penilik jemaat kalau ia tidak berpegang pada ajaran yang benar ?
Di sini dapat kita lihat dua macam
tugas penilik jemaat atau penatua yaitu : pertama, ia harus dapat menasehati
orang-orang yang ingin mengetahui hal yang benar dan yang mau melakukan yang
benar. Kedua, ia harus dapat menmpelak orang-orang yang melawan yang benar.
Tetapi dengan cara apakah ia menempelak orang-orang yang suka melawan itu ??
dengan ajaran yang benar itu ia meneguhkan orang yang mau taat. Perdebatan
tidak akan memperbaiki kesalahan orang. Hanya ajaran yang berdasarkan firman
Tuhan yang benar yang dapat memperbaikinya. Perhatikanlah, orang yang mau
mentaati Firman Tuhan hanya perlu di nasehati, tetapi orang yang tidak mau
menuruti yang benar harus ditelempak.
4. Perangai
orang Kreta yang kurang baik (1:10-16)
Mereka
telah berpaling dari ajaran yang benar dan mengeluarkan perkataan yang sia-sia,
teristimewa mereka yang berpegang pada hukum sunat. Rupanya mereka adalah orang
Yahudi yang mengaku dirinya percaya
kepada Yesus Kristus, tetapi mereka mencampur agama Yahudi dengan ajaran agama
Kristen. Dengan demikian mereka telah menajiskan orang Kristen. Dengan demikian
mereka telah menajiskan agama Kristen dan menyesatkan banyak orang. Paulus
menyebut mereka guru-guru sesat. Seringkali mereka itu pandai berbicara tetapi
sebenarnya mereka penipu.
Seorang penilik jemaat yang baik
wajib dengan segera melawan penyesat-penyesat agar ajaran yang sesat tidak
sampai menyesatkan banyak orang. Alasan untuk menegor mereka sudah jelas, agar
anggota jemaat Kristus tidak berbalik dari ajaran yang benar janganlah
memberikan kesempatan kepada penyesat untuk mengajarkan hal-hal yang tidak
benar, sebab mereka itu loba akan uang. Mereka itu merupakan bukti dari
perkataan Paulus kepada Timotius :”karena akar segala kejahatan ialah cinta
uang”.
Dalam ayat 122-16 Paulus menerangkan
keadaan dan tingkah laku sebagian besar orang Kreta. Pada waktu itu orang Kreta
menyebut para penyair “nabi”. Itu tidak
berarti bahwa mereka adalah nabi Tuhan; mereka hanya penyair. Paulus mengutip’
buah ucapan dari salah seorang penyair itu, seorang Kreta sendiri. Sebab ia
seorang Kreta, tentu ia tidak akan memfitnah bangsanya sendiri. Lagipula
perkataan itu benar dan sudah di kenal sebagain pepatah di antara golongan dan
bangsa itu, yaitu, “Dasar orang Kreta pembohong, seperti binatang buas, pelahap
yang malas”. Pada masa itu bila seorang mengatakan “secara Kreta”, artinya sama
dengan “membohong”. Namun Paulus membenarkan
ucapan itu karena merupakan ilham Roh Kudus kepadanya.
Pada waktu itu dongeng-dongeng orang
Yahudi merajalela dan banyak diantanya yang telah meresap masuk ke dalam
jemaat. Dongeng-dongeng itu mengajarkan hukum manusia, bukan hukum Allah, sebab
orang-orang yang mengajrakannya telah berpaling dari ajaran Allah yang benar.oleh
sebab itu Paulus menyuruh Titus agar ia menegor orang dengan lemah kasar karena
mereka sudah tidak karuan.
5. Perhatikan
perkataan “bagi orang suci semuanya suci”(1:15)
Diantara guru-guru sesat di pulau Kreta itu,
ada golongan yang mengajar orang-orang sehingga mereka menjadi gelojoh (rakus),
dan ada pula golongan lain yang mengajar untuk membedakan makanan mana yang
baik dan suci dan makanan yang najis yang tak boleh dimakan. Palus menyatakan
bahwa kedua-duanya salah, dan ia menuntut pikiran yang suci dan suara hati yang
bersih di hadapan Allah. Kesucian atau kenajisan tidak bergantung kepada
makanan ataupun benda-benda, melainkan kepada orang yang makan makanan itu dan
caranya mempergunakan benda itu. Bagi orang yang suci hatinya, tiap-tiap
perkara adalah suci. Tetapi bagi orang yang najis hatinya dan yang tak beriman,
satupun tak ada yang suci, bahkan akalnya dan perasaan hatinya pun najis.
Orang sesat mengaku dirinya mengenal
Allah, tetapi dengan perbuatannya ia menyangkal Dia dan meniadakan Dia. Makin
lama mereka menjadi semakin mendurhaka kepada Allah. Oleh sebab itu kita harus
memalingkan diri dari orang-orang seperti itu. Paulus mengatakan, bahwa
guru-guru sesat tidak sanggup melakukan sesuatu yang baik. Kita harus memilih
yang baik, supaya kita suci dan tak bercacad menjelang hari Kristus, penuh
dengan buah kebenaran yang dikerjakan
oleh Yesus Kristus untuk memulihkan dan memuji Allah. Seperti Paulus memberi
amanat kepada titus, demikian juga sekarang Tuhan Allah memberi amanat kepada
kita, terutama kepada gembala sidang dan penatua. Baiklah kita setia kepada-Nya
serta mentaati segala printah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita dalam
pasalini. Dan hendaklah kita ingat, bahwa pengakuan kita tidak akan ada
faedahnya jika kelakuan kita menyangkal dan meniadakan Tuhan Allah.
Dalam sebuah buku kumpulan kata-kata
bijak ada kalimat yang mengatakan demikian: "Jika dalam suatu masyarakat
ada keteraturan dan kedisiplinan, berarti aturan-aturan atau norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat itu dilaksanakan dengan benar dan tepat. Sebaliknya,
jika dalam suatu masyarakat terdapat kekacauan dan ketidak teraturan, berarti
aturan yang berlaku disepelekan!"
Jemaat
Kristus harus hidup teratur karena itu perlu ada aturan. Dan untuk melaksanakan
aturan-aturan tersebut harus ada pelaksana yang notabene adalah orang-orang
yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang sudah ditetapkan. Paulus menerapkan
hal itu kepada jemaat Tuhan di Kreta karena Kristen belum hidup teratur.Untuk
itu sebagi pengajar harus mampu menciptakan kehidupan yang teratur khusunya
bagi siswa/ peserta didik.
II.b.
Pasal II: meneguhkan
1. Nasehat
kepada Titus (2:1,7,8,15)
Dalam
pasal yang kedua ini Paulus mengajarkan bagaimana sepatutnya sikap seorang anggota
jemaat . paulus juga berpesan kepada Titus bagaimana seharusnya ia mengajar
anggota-anggota jemaat itu. Ajaran guru-guru sesat seperti yang dikatan dalam
pasal pertama sangat berbeda dengan ajaran titus yang terdapat dalam pasal
pertama sangat berbeda dengan ajaran titus yang terdapat pasal kedua ini.
Meskipun titus tidak berarti bahwa tidak perlu lagi mengajar anggota-anggota
jemaat itu, aia bahkan tidak henti-hentinya mengabarkan Injil kepada orang
banyak. Paulus menesehati Titus supaya ia memberikan ajaran yang benar artinya
ajaran yang diberikan haruslah ajaran yang murni, tidak menyimpang dari Firman
Allah dan harus meneguhkan serta menguatkan setiapa orang percaya.
2. Nasehat
kepada Orang Tua (2:2-4)
Ajaran
benar harus diberikan kepada setiap golongan yang terdapat dalam jemaat. Selain
secara umum, seorang gembala atau penilik jemaat wajib juga memberikan ajaran
khusus dan yang tepat bagi tiap-tiap golongan, yaitu yang khusus bagi orang tua
dan yang khusus bagi orang muda. [2]Pelayanan
pastoral merupakan kewajiban. Dampak sikap demikian membawanya kepada pelayanan
robotisasi, yaitu bekerja secara robot
yang menunaikan kewajiban karena tugas saja. Ada suatu pesan bagi orang
laki-laki yang sudah tua harus tetap setia mentaati ajaran Kristus. Mereka tidak
boleh berpendapat bahwa karena sudah tua mereka boleh melakukan hal-hal yang
dilarang bagi orang lain. Paulus berpesan kepada mereka agar mereka hidup
sederhana, terhormat, bijaksana, serta sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam
ketekunan. Orang yang tua cepat sakit hati dan besungaut-sungut, sebab itu
paulus perlu mengingatkan mereka agar bijaksana.
Paulus meminta agar
perempuan-perempuan yang sudah tua itu cakap mengajarkan hal-hal yang baik.
Disamping itu juga agar mereka mendidikperempuan-perempuan muda mengasihi suami
dan anak-nakanya, hidup bijaksana dan suci rajin mengatur rumah tangganya
dengan baik agar tidak dicela oleh orang-orang yang tidak seiman. Karena itu Paulus juga mengatakan “Hai ,
Istri, tunduk kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala
istri sama seperti Kristus adalah kepala Jemaat. Dialah yang menyelamatkan
Tubuh” (Efesus 5:22,23).
Kristus
menjadi kepala jemaat supaya Ia melindungi dan menyelamatkan jemaat, serta
melengkapi jemaat itu dengansegala
sesuatu yang baik, dan melepaskan jemaat itu daripada segala kejahatn. Demikian
juga tugas suami kepada istrinya, ia wajib memelihara istrinya dan
melindunginya dari segala bahaya serta memberikan kepadanya hal-hal yang baik.
Mereka harus memelihara jiwa mereka mereka dan mendidik mereka dalam hal-hal
rohani, terutama membimbing anak-anak itu supaya mereka percaya kepada Tuhan
Yesus Kristus. Dengan demikian, firman Allah Tidak akan di hujat oleh
orang-orang yang di luar jemaat.
3. Nasehat
kepada orang muda (2:6-8)
Ada
juga kewajiban orang-orang muda. Seringkali mereka itu cepat marah dan kurang
bijaksana serta kurang dapat menguasai diri; sebab itu mereka patut diajar
supaya berakal budi, tidak cepat marah, melainkan suka mendengarkan nasihat dan
merendahkan diri. Janganlah orang laki-laki yang masih muda berkeras kepala,
melainkan hendaknya mereka merendahlan diri.Orang muda sering jatuh pada
kesombongannya. Sebab itu orang-orang yang masih muda perlu menyadari hal itu,
agar mereka tidak jatuh ke dalam dosa dan dukacita. Demikianlah pesan yang
diberikan Paulus kepada Titus, supaya titus mengajarkannya kepada orang lain.
4. Nasehat
kepada Hamba (2:9-10)
Ayat
9dan 10 ditujukan kepada hamba. Memang kemerdekaan melalui Kristus dan
persaudaraan di antara orang-orang yang telah menerima Injil sangat
bertentangan dengan perhambaan. Pada masa jemaat mula-mula, hamba-hamba yang
sudah percaya kepada Kristus banyak yang salah mengerti tentang kemerdekaan
yang daripada Kristus juga membebaskan mereka dari tugasnya sebagai hamba.
Ajaran untuk hamba yang dapat kita lihat dalam alkitab menyatakan bahwa Tuhan
mengasihi para hamba dan Tuhan amat memperhatikan keadaan mereka.
Rasul Paulus tidak menginginkan
hamba-hamba menganggap derajat mereka terlalu. Ia tidak menghendaki para hamba
berpikir bahwa karena mereka di bawah perintah manusia, mereka terlepas dari
perintah Tuhan. Paulus juga
memperingatkan supoaya setiap hamba mentaati perintah Tuannya dengan mengingat
bahwa tuannya juga mempunyai Tuhan yang ada di dalam sorga. Titus diberi tugas
mengajar orang-orang yang mempunyai hamba-hamba tentang kewajiban mereka
terhadap hamba-hambanya. Disamping itu Titus juga di wajibkan mengajar para
Hamba tentang kewajiban mereka terhadap tuannya. Bahwa perhambaan telah
diberantas dari dunia ini. Dan Alkitab memberikan prinsip-prinsip itu sekarang
dapat diterapkan keopada orang-orang yang menjadi pelayan dalam rumah orang.
Lebih baik prinsip itu diterapkan kepada orang yang bekerja untuk orang lain.
Tuhan
telah menyatakan, “Aku memberimu sebuah perintah agar kamu saling mengajarkan
ajaran kerajaan. Mengajarlah kamu dengan tekun dan kasih karunia-Ku akan
bersamamu, agar kamu dapat diberi petunjuk dengan lebih sempurna dalam hal
teori, asas, ajaran, hukum Injil dan dalam segala hal yang berkenaan dengan kerajaan
Allah, yang perlu bagimu untuk dipahami” Dalam memberikan perintah ini, Tuhan
memberi kita tanggung jawab kudus. Dia juga menuntun kita pada
kesempatan-kesempatan yang tak terbatas untuk pelayanan yang bermakna. Beberapa
pengalaman sebanding dengan sukacita menolong orang lain belajar dan
menjalankan Injil.
Perintah
untuk mengajar ini berlaku bagi Anda, bahkan jika saat ini Anda tidak memiliki
pemanggilan resmi sebagai guru. Anda memiliki kesempatan mengajar sebagai
anggota dari keluarga Anda, sebagai pengajar ke rumah atau pengajar berkunjung,
dan bahkan sebagai rekan kerja, tetangga, serta teman. Kadang-kadang Anda
mengajar melalui kata-kata yang telah Anda siapkan untuk diucapkan.
Kadang-kadang Anda dapat mengambil manfaat dari saat-saat singkat yang tak
terencana dimana Anda dapat membagikan kebenaran-kebenaran Injil. Sebagian
besar Anda mengajar melalui teladan.
Dan
tentunya sasaran utama ialah meneguhkan iman nara didik agar senantiasa
berpengharapan teguh kepada Tuhan yaitu tentang pengharapan akan kedatangan
TuhanYesus yang ke duakali ini.
II.C.
Pasal III: Mengingatkan agar
melakukan pekerjaan Yang baik
1. Kewajiban
setiap warga negara
Paulus telah berpesan kepada Titus
memberikan pengajaran yang khusus kepada masing-masing golongan di dalam
jemaat. Dalam pasal ini ia menyuruh titus memberikan ajaran yang umum untuk
seluruh anggota jemaat. Mereka di nasehati agar selama mereka hidup di dunia
ini mereka siap melakukan setiap pekerjaan yang baik, tunduk kepda pemerintah
dan bersikap ramah serta lemah lembut terhadap semua orang. Sebenarnya dalam
kitab ini bagaimana kita dapat memuliakan ajaran Allah yaitu Injil Kristus.
Paulus mengetahui bahwa orang-orang Kreta tidak suka tunbduk terhadap
pemerintah Romawi. Paulus juga tahu bahwa orang-orang Yahudi yang ada di pulau
Kreta sering melawan pemerintahan romawi itu. Jemaat disitu terdiri dari
orang-orang Yahudi dan orang-orang Kreta. Paulus manesehati mereka supaya
tunduk serta taat tiap pekerjaan yang baik. Oleh karena sifat-sifat orang kreta
yang tidak suka tunduk kepada pemerintah, maka nasehat ini tidak disukai oleh
beberapa anggota jemaat di pulau Kreta. Tetapi bila seseorang tidak senang
menerima ajaran yang baik, maka hal itu membuktikan bahwa ajaran itu justru
perlu baginya.
Setipa anggota Krosten harus taat
kepada hukum-hukum negara dan tunduk kepada pemerintah. Sebenarnya pemerintah
itu ditentukan oleh Allah, dan menjadi wakil Allah untuk kebaikan rakyat.
Pemerintah menghargai kebaikan dan
kebajikan rakyatnya, tetapi menghukum yang bersalah. Paulus meminta supaya kita siap melakukan
tiap-tiap pekerjaan yang baik. Artinya, siap untuk melakukan setiap pekerjaan
yang baik terhadap sesama manusia dan terhadap pemerintah. Jika kita
diperintahkan untuk berbuat sesuatu yang nyata salah atau berdosa, tentu kita
tidak perlu mentaati perintah itu. Orang Kristen boleh menyatakan kesalahan
orang, tetapi hal itu hendaknya dilakukan dengan sopan dan tidaak memfitnah.
2.
perlunya melakukan pekerjaan yang baik
Rasul paulus berkata, “perkataan ini
benar”. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah semua perkataan yang telah
dikatakannya kepada Titus. Paulus menghendaki supaya Titus menguatkan dengan
tegas segala yang telah diajarkan Paulus kepadanya. Orang yang percaya kepada
Allah patut berusaha mengerjakan segala kebajikan. Paulus berpesan kepada Titus
supaya ia menuntut perbuatan-perbuatan yang baik dari orang Kristen. Teori
belajar Behacvioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik.
Aliran ini menekankan .pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan
stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143).
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang
berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan
pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi
antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat
diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon,
oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh
pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan
pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi
atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya
para psikolog yang memberi sumbangsih mengenai perbuatan ataupun perbuatan baik ini akan tetapi sebagai Pengajar
Kristen harus lebih fokus untuk mengajarkan berperilaku yang baik, baik seluruh
aspek hidup anak didik.
BAB
III.
PENUTUP
III.a.
Kesimpulan
Surat Paulus kepada Titus ini
merupakan surat yang pada latar belakangnya bertujuan untuk membimbing Titus,
murid dari Paulus yang ditinggalkan Paulus di Kreta untuk dapat membimbing
gereja yang ada di Kreta. Jemaat Kreta adalah jemaat yang baik, namun pada
waktu surat ini ditulis, jemaat di Kreta sedang mengalami serangan dari
guru-guru palsu yang menyebarkan ajaran yang berbeda dengan apa yang diajarkan
oleh Paulus dahulu. Surat ini memberikan pada Titus instruksi akan apa yang
harus ia lakukan untuk menghalau guru-guru palsu tersebut. Dan berbagai
cara yang harus diperhatikan Rasul Paulus terhadap Titus yang ada di Kreta untuk memperhatikan situasi
yang terjadi pada saat itu diantaranya ialah Paulus meminta Titus untuk segera
mengangkat penatua untuk jemaat di Kreta. Hal ini dikarenakan jemaat yang belum
sepenuhnya kokoh ini membutuhkan seorang contoh untuk mereka teladani. Kemudian
Paulus mengarahkan Titus agar ia mengajarkan doktrin yang benar menurut prinsip
pengajaran Kristus.
Jadi seorang pengajar khususnya Guru
PAK harus bisa mengimplikasikan hal-hal diatas sebagaimana yang Tuhan kehendaki
dan tentunya karena memang perintah Tuhan bahwa harus mengajarkan
berulang-ulang dan mengabarkan INJIL Kristus.
III.b.
Saran
Makalah ini memang tidak terlepas
dari kekurangan, karena memang sebagai manusia ciptaan Tuhan tidak ada yang
sempurna tetapi waktu dan kesempatan yang memungkinkan akan makalah ini
terselesaikan. Jadi sebagai penulis menerima saran dan sumbangsih para pembaca
secara khusus kepada Dosen saya mata kuliah Ekspos PB III , Pdt.Maruhal
Siringo-ringo,M.Th agar kedepan semakin bisa dalam penyusunan Ilmiah.
DAFTAR
PUSTAKA
J.
Wesley Brill, Tafsiran Surat Timotius & Titus (Kalam Hidup)
J.
Tidball Derek teologi penggembalan (suatu
pengantar) , Gandum Mas 1998.
Pdt.
Dr. Paulus Daun, Th.M. teologia
penggembalaan (teologia pastoral), yayasan daun Family
Alkitab
pegangan
Alkitab
Penuntun ,Kalam Hidup
Saya sudah membaca surat penggembalaan
Rasul paulus secara komperehensif dan berkata
jujur di hadapan Tuhan
Dengan adanya perjanjian / kontrak belajar dengan Dosen
pengampuh saya Pdt. Maruhal Siringo-ringo
Yang bertanda tangan di bawah ini :
( Rani Alida Simbolon )
saya berharap kritik dan saran saudra untuk perbaikan ke depan
BalasHapusJBU
Hard Rock Casino & Hotel - DrmCD
BalasHapusHard Rock 김천 출장안마 Casino & Hotel 경산 출장안마 · Location: Isle of Capri, Louisiana · Check In: 11pm · Check Out: 4pm · Check Out: 4pm 영천 출장샵 · Check 남양주 출장마사지 Out: 3pm 원주 출장마사지 · Check Out: 2pm · Check Out: